alur cerita film ayah mengapa aku berbeda?

May192012
Bila semua teman-temanku bernyanyi, aku hanya bisa
terdiam. Aku tidak pernah tau harus bagaimana
mengatakan pada dunia bertapa aku sangat ingin
seperti mereka, bisa mendengar dan bernyanyi
layaknya kehidupan normal. Sayangnya aku terlahir dengan keadaan tuli, lebih
sadisnya terkadang mereka orang-orang yang tidak
pernah mengerti perasaanku berkata kalau aku “
BUDEK” dan itu dituliskan di kertas untukkku tepat di
meja belajarku di kelas. Tapi aku tidak pernah merasa ingin membalas
semuanya, karena aku sadar inilah hidupku dan inilah
takdirku. Dulu semasa kecil mungkin aku tidak pernah merasa
beban ini begitu besar dalam hidupku, ketika
menyadari aku beranjak remaja dan melihat aku
berbeda diantara sahabat-sahabatku. Di depan mading
sekolahku tertulis sebuah pengumuman pembentukan
tim musik sekolah, aku ingin ikut dalam tim itu tapi sayangnya aku hanya bisa meratapi nasibku. Aku pun
pulang untuk bertemu dengan ayah, aku terduduk
dengan wajah penuh kesedihan, Dalam duniaku, hanya ayah yang bisa mengerti apa
yang aku katakan. Walaupun itu harus dengan bahasa
tangan yang ia pelajari dengan susah payah.
Aku mengetuk pintu untuk memberi tanda aku ada di
kamar untuk bicara dengan ayah, ia melihatku dan
melempar senyum. “ Angel, ayo masuk. Silakan duduk disini nak, ada
apa? Bagaimana pelajaran kelas kamu hari ini?”
Aku tertunduk, lalu ayah mulai bisa membaca wajahku.
“ Apa yang terjadi nak, ceritakan pada ayah?”
“ Ayah mengapa aku berbeda dari teman-
temanku?” “ Dalam hal?” tanya ayah padaku,
Aku menangis dan usiaku saat itu hanya 12 tahun dan
duduk di sekolah menengah pertama.
“ Aku tidak bisa bernyanyi, tidak bisa mendengar..
Mengapa ayah?”
Ayah melihatku sambil tersenyum, “ Apakah kamu merasa bersedih karena itu?”
“ Ya, aku sangat bersedih.. Aku ingin seperti mereka..
Bisa bernyanyi dan mendengarkan indahnya musik..”
“ Mengapa kamu ingin menjadi seperti mereka?”
“ Karena aku ingin menjadi tim musik sekolah, aku
ingin ayah..” “ Kalau begitu lakukan..” Aku terdiam tidak bisa membalas pertanyaan ayah
kemudian ia bangkit dan mengajakku ke ruangan
gudang di belakang rumahku, ia mulai membersihkan
debu-debu di sebuah meja panjang yang tadinya
kupikir adalah meja makan. Ternyata itu adalah piano
klasik. Aku memperhatikanya dengan heran, “ Ini adalah peninggalan ibumu sebelum ia meninggal
setelah melahirkan kamu, ayah sudah tidak pernah
mendengarkannya sejak kamu terlahir..”
“ Lalu..?” tanyaku.
“ kamu mungkin terlahir tanpa bisa mendengar dan
bernyanyi. Tapi kamu terlahir dari rahim seorang ibu yang berjuang agar kamu ada di dunia ini dan ayah
percaya, Tuhan memberikan kamu dalam kehidupan
karena kamu memang layak untuk itu.”
“ Tapi aku cacat, tidak normal dan tidak akan pernah
bisa mendengar musik? Bagaimana caranya aku bisa
seperti teman-temanku.” “ Sayang kamu memang tidak bisa mendengarkan
musik, tapi kamu bisa memainkan musik?”
“ Bagaimana caranya?”
“ Ayah ada disini untuk kamu dan percayalah, musik
itu akan terasa indah bila kamu merasakannya dari hati
kamu. “ “ Walaupun aku tidak bisa mendengar..”
Ayah duduk dikursi dan menyuruhku
memperhatikannya bermain piano, Ia menutup
matanya lalu memainkan arunan toth piano itu.
“ Anakku, rasakanlah musik itu dalam hati dan kamu
akan tau bertapa Tuhan sangat mencintai siapapun makluk yang ia ciptakan. Walaupun kamu terlahir
dengan keadaan cacat dan tidak bisa mendengarkan
suara musik itu dari telinga kamu.. Kamu bisa
dengarkan lewatkan hati kamu..” Ayah mengajakku untuk menyentuh setiap toth piano
dan kami bermain bersama, aku memang tidak bisa
merasakan apa suara music itu tapi aku bisa merasakan
nada dari jari yang ketekan dan itu membuatku
bersemangat untuk berlatih piano klasik, aku tau ibuku
adalah seorang pemain piano sebelum ia meninggal saat melahirkanku. Aku pun berjuang untuk bermain
musik dan perlahan aku mampu membuat sedikit
alunan music yang indah. Semua itu kurasakan dalam
hatiku, semua itu kurasakan dalam jiwaku. Beberapa minggu kemudian, aku mulai berani
mendaftar dalam tim musik sekolahku dan guruku
menerimaku walaupun ia tau aku cacat tapi setelah aku
mainkan piano dan ia terkesan. Aku tau semua orang
melihatku dengan aneh, seorang teman bernama Agnes
datang padaku. “ Hai orang cacat, apa yang bisa kamu lakukan
dengan telingamu yang tertutup kotoran?”
Yang lain tertawa dan menambah kalimat yang melukai
hatiku,
“ Dia mungkin mau jadi badut diantara tim kita,
biarkan saja..” Ejekan itu berakhir saat guruku datang, mereka semua
kembali ke posisi mereka masing dalam alat music yang
mereka kuasai. Ibu guru pembimbing kelas musik
bersikap hangat padaku, ia memperkenalkanku pada
semuanya.
“ Anak-anak mulai hari ini Angel akan bergabung dalam tim kita, semoga kalian bisa berkerja sama
dengan Angel ya..”
“ Ibu apa yang bisa lakukan untuk tim kita, dia kan
budek?” ejek Agnes.
“ Agnes!! ibu tidak pernah mengajarkan kamu untuk
menghina orang lain, jaga sikap kamu. Walaupun Angel cacat secara fisik ia juga memiliki perasaan, tolong
kendalikan kata-kata kamu.”
Aku senang ibu membelaku tapi itu malah membuat
semua membenciku, ibu mempersilakan aku memainkan
piano, dengan gugup aku bisa bermain dengan baik.
Tidak ada satupun tepuk tangan dari teman-temanku, hanya ibu guru seorang. Ketika kelas bubar aku
mendekat pada ibu guru, aku menuliskan apa yang
ingin aku katakan kepadanya, Ia membacanya.
“ Ibu , aku mundur saja dari tim, aku tidak mungkin
bisa menjadi bagian dari mereka. Karena aku ini cacat.
Mereka tidak akan menerimaku?” “ Tidak sayang, jangan berkata demikian, kamu
special, kamu berbakat, mereka hanya belum terbiasa,
percayalah kalau kamu sudah sering bermain dengan
mereka. Kamu akan diterima dengan suka cita. Jadi ibu
tidak mau mendengarkan kalimat kamu ingin
mundur..” “ Tapi bu, aku takut bila membuat semua jadi
kacau.”
“ Anakku, beberapa minggu lagi, sekolah ini akan
merayakan hari ulang tahunnya, ibu percaya kamulah
satu-satunya orang yang layak mengisi tempat di
bagian piano, karena teman kamu Rika ( pianis sebelumnya) telah mundur karena sakit cacar” Aku pulang ke rumah dan memberi kabar kalau aku
diterima dalam tim musik sekolah, ayah begitu gembira
menunggu saat-saat aku akan berada dipanggung, ia
terus melatih permainan pianoku. Aku tidak pernah
cerita bertapa aku sangat diremehkan oleh teman-
teman se-timku yang hanya menganggap aku sampah yang tidak layak disamping mereka. Mereka sering
memarahi aku dengan kata-kata kasar lalu mereka
menghinaku sebagai gadis caca, hal itu terus terjadi
disaat kami berlatih persiapan untuk panggung
sekolah . Mereka tidak pernah peduli apa yang
kumainkan bila benar, mereka selalu bilang salah. Padahal aku yakin aku benar-benar memainkan musik
piano ini, sedihnya saat aku bertanya dimana letak
kesalahanku yang mereka jawab lebih menyakitkan. “ Kamu ini tuli dan budek, bagaimana bisa kamu tau
alunan musik yang kamu mainkan itu benar atau salah?
Kamu membuat aku muak dengan sikap kamu yang
sok pintar dan mencari muka di depan bu guru.” Kata
Agnes padaku.
Aku menangis mendengarkan kalimat itu, aku berlari pulang ke rumah dan satu-satunya kalimat yang
kudengar hanya satu. “ Pergi kamu gadis cacat,
jangan pernah kembali ke tim kami, kami tidak sudi
menerima kamu dalam kelompok ini.”
Aku menangis hingga di depan rumahku dan ketika
aku tiba di gerbang rumahku, sebuah mobil ambulan ada didepan rumahku dan membawa ayah. Aku
mengejar perawat yang membawa ayah, ayahku
tampak tertidur tanpa bicara, seorang tetanggaku
berkata padaku.
“ Ayahmu terkena serangan jantung, kamu ikut tante
saja. Kita pergi bersama-sama ke rumah sakit.” Aku shock dan menangis! Bagaimana hidupku tanpa
ayah? Sepanjang perjalanan aku terus menitihkan air
mata. Ayah tidak sadarkan diri sejak sakit jantungnya
kambuh, ia memang memiliki sakit jantung sejak
menikah padahal usianya masih sangat muda. tiga hari
lamanya aku menemani ayah yang tidak pernah sadarkan diri. Tiga hari pula aku tidak pernah ke
sekolah, bu guru bertanya pada Agnes mengapa aku
tidak masuk hari ini?”
“ Mungkin Angel merasa tidak sanggup lagi
bergabung dengan tim kita, dia itu bodoh bu! Selalu
melakukan kesalahan dan dia pergi begitu saja saat latihan dan tidak pernah kembali hingga saat ini.”
Ibu guru mencoba pergi ke rumahku, tapi tidak ada
seorang pun orang dirumahku. Aku tau beberapa hari
lagi perayaaan musik di sekolahku akan dimulai.
Mungkin memang sudah menjadi garis tangan hidupku,
aku tidak boleh menjadi tim sekolah. Padahal aku sudah berjuang maksimal berlatih piano di rumah. Tapi
aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menjaga ayahku
karena ia lebih penting dalam hidupku, ia satu-satunya
sahabatku yang bisa mengerti keadaan ku setelah ibu
meninggal dunia.
Ya Tuhan jangan ambil ayahku, doaku setiap saat kepadanya Seminggu kemudian, Ayah tersadar dan melihat aku disampingnya. Ia tidak
bisa bicara banyak, selain bertanya mengapa aku disini,
mengapa aku tidak berlatih bersama tim musik
disekolahku, aku berpura-pura berkata padanya kalau
mereka memberikan aku izin menjaga ayah. Ayah
marah padaku, ia bilang aku harus segera latihan dan ia ingin aku tampil disana. “ Jangan pedulikan ayah saat ini, yang penting kamu
harus bisa buktikan kepada semua orang kalau kamu
bisa bermain musik dan tunjukkan kepada mereka
kamu gadis yang sempurna ” Aku tau itu berat, tapi aku tidak ingin ayah bersedih
mendengar penolakkan sahabatku di sekolah, ia
berjanji padaku akan lekas sembuh asal aku terus
bersemangat latihan musik. Akhirnya aku pun pergi ke
sekolah kembali dan masuk ke kelas musik. Ibu guru
menyambutku dengan baik, dan langsung memintaku berlatih. Setelah ia pergi, Agnes dan kawan-kawan
mendekatiku, mereka mendorongku hingga terjatuh. “ Kamu itu makluk Tuhan paling menjijikan, jangan
membuat tim kami malu dengan kehadiran kamu di tim
music kami. tidak punya malu, padahal kami sudah
mengusirmu..” Aku terdiam, seorang teman mengatakan pada Agnes,
“ Percuma dia tuli, dia ga akan mendengarkan apa
yang kita bicarakan.”
Agnes marah merasa aku tidak mendengarkan semua
kemarahannya, Ia bersama teman-teman mendorongku
hingga keluar ruangan, aku mengetuk pintu dan ketika tanganku berusaha membuka pintu, mereka menjepit
tanganku tanpa ampun, aku berteriak kesakitan dan
mereka tidak peduli
“ Astaga dia bisa menjerit juga ya.. kirain dia itu bisu,
bisa teriak juga hahaha “ ledek mereka.
Mereka menyiksaku dan aku tidak berdaya. Tanganku terasa mati rasa, mungkin jariku patah. Aku meminta
tetanggaku untuk membalut luka ini dan ia sangat
terkejut dengan keadaanku. Aku berkata padanya aku
terjatuh di jalan. Tapi aku tidak akan pernah menyerah
untuk menjadi tim musik kelasku. Hingga hari itu tiba,
dengan luka balut tanganku aku muncul di sekolah. Sebelumnya aku mengatakan pada ayah .
“ Ayah hari ini aku akan bermain musik dihadapan
semua orang, ayah harus mendengarkan ya. “
“ Anakku, ayah pasti mendengarkan. Maaf saat ini
ayah sedang sakit, ini adalah hari istemewamu. Tapi
ayah sudah pikirkan bagaimana caranya. Ambil telepon genggam ayah dan biarkan itu menyala saat kamu
mainkan.”
“ Baik ayah.” Aku menuruti ide cermerlang ayah.
Saat aku keluar ruangan, dokter mengatakan hal kecil
disamping ayah “ Jantung anda melemah, anda harus
terus berpikir positif sehingga cepat sembuh” “ Anak saya akan manggung hari ini, itu membuat
saya cemas”
“ Percayalah , anak anda adalah gadis luar biasa..” Aku menangis menuju sekolahku, Saat aku tiba di
sekolah, Agnes dan kawan-kawan melihatku dengan
jijik. Sepertinya mereka tidak mau aku di panggung,
mereka manarik bajuku dan menamparku di belakang
panggung. “ Pergi cepat, jangan pernah ada disini, kami akan
tampil tanpa kamu. Cepat pergi? Sebelum ibu guru
datang”
Tidak, aku tidak akan menyerah walaupun mereka
menyiksaku. Aku sudah berjanji pada ayah untuk
bermain musik di acara sekolah. Karena mereka mendapatkan aku tidak menyerah, akhirnya mereka
mengancam tidak akan tampil dan memaksa aku tampil
seorang diri, mereka ingin membuatku malu.
“ Baiklah, kami tidak akan tampil. Dan silakan kamu
tampil sendirian, jadilah badut diatas panggung..”
Aku tidak mampu berbuat apa-apa ketika mereka mengikat rambutku layaknya orang bodoh, memoles
mukaku dengan cat warna merah menyerupai badut
sirkus. Aku tidak peduli, aku hanya ingin ayah bahagia
dan menepati janji kepada ayah untuk tampil dalam
panggung itu. Setelah puas mendandaniku seperti
badut mereka pergi mendorong aku diatas panggung saat ibu guru yang bertugas menjadi pembaca acara
memanggil tim kami dan aku muncul sendirian, mereka
semua berlarian mengumpat.
“ DImana yang lain?” tanya ibu guru,
Aku terdiam, semua orang yang ada di bangku
penonton menertawakan aku, mereka melihat badut yang sedang berada diatas panggung, aku sungguh
tidak bisa berbuat-apa ap.
“ Astaga apa yang terjadi padamu dan yang lain
pergi kemana? Kita tidak akan bisa menjalankan acara
music ini.” Aku mengambil kertas dan menuliskannya
“ Bu, izinkanlah aku bermain piano ini, aku sudah
berjanji pada ayah untuk bermain piano , ia sedang
terbaring lemas di rumah sakit, jantungnya melemah
hari ini, aku takut ia akan semakin buruk bila tau aku
gagal bermain bersama tim musik di sekolah” Ibu menatapku, ia sadar bertapa aku sangat sulit.
“ Baiklah mainkanlah piano ini, tunjukkan pada dunia
kalau kamu adalah orang special dengan musikmu”
“ Terima kasih bu.”
Ibu guru memberikan kata-kata sambutan kepada
penonton yang terus tertawa karena melihat badut sepertiku, tapi aku tidak peduli. Dengan keunggulan 3g,
aku mengadakan video call dan ayah tersenyum
padaku memberikan semangat, keletakkan telepon itu
diatas meja piano.
“Tuhan bimbing aku agar semua berjalan dengan
baik. Dan dengarkanlah musik ini..” Setiap denting musik mulai memecahkan semua tawa
yang awalnya menghujatku, menghinaku, arunan
musik ini membawa perjalanan kisahku untuk berjuang
menunjukkan pada dunia, aku memang terlahir cacat,
aku tidak pernah tau apa artinya musik, tidak tau
bagaimana suara burung, suara ayah bahkan tragisnya aku tidak pernah tau suara yang keluar dari mulutku
sendiri.
Tapi aku percaya, aku tercipta bukan tanpa tujuan
dalam dunia ini. ketika lagu itu usai kumainkan, semua
berdiri dan memberikan tepuk tangan, aku menangis.
ibu guru memelukku, aku ingin ibu menyampaikan pesanku kepada penonton. “ Terima kasih, memberikan aku kesempatan untuk
berada ditempat ini. Kini aku tau mengapa aku berbeda,
karena Tuhan mencintaiku. Aku tidak akan marah pada
Agnes dan teman-teman, aku bersyukur karena
mereka mengajarkan aku tentang ketekunan dan
ikhlas. Termasuk ayah, yang selalu bilang padaku “ kita tidak perlu merasa sedih dengan keadaan kita,
bagaimanapun bentuknya. Karena Tuhan memberikan
kita nafas kehidupan dengan tujuan hidup masing-
masing”
Ya aku
Share on Facebook Share on Twitter

Comments

No comments yet. Why not make the first one!

New Comment

[Sign In]
Name:

Email:

Comment:
(You can use BBCode)

Security:
Enable Images


 
Back to Top